Sabtu, 13 Juni 2009 0 komentar

Keutamaan Wanita

22 September 2008 in Masturoh | Tags: Fadhilah, Masturoh, Religion, Wanita

Seorang wanita shalihah lebih baik dari 70 orang waliyullah.

Seorang wanita jahat lebih buruk daripada 1000 lelaki yang jahat.

Dua rakaat shalat dari wanita hamil lebih baik daripada 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil.

Wanita yang member susu kepada anaknya dari buah dadanya akan mendapat satu pahala dari tiap-tiap tetes susu yang diberikannya.

Apabila seorang suami pulang kerumah dalam keadaan letih dan istrinya melayani dengan baik maka mendapat pahala jihad.

Seorang idtri yang menghabiskan malamnya dengan tidur yang tak pulas karena menjaga anaknya yang sakit mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba sahaya.

Istri yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami melihat istrinya dengan kasih sayang, maka Allah pandang mereka dengan penuh rahmat.

Wanita yang tidak cukup tidur di malam hari karena menjaga anaknya yang sakit akan diampunkan oleh Allah seluruh dosanya dan bila ia hibur anaknya maka Allah akan memberikan pahala 12 tahun pahala ibadah.

Wanita yang mendorong suaminya keluar di Jalan Allah dan menjaga adab rumah tangga, akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu dari suaminya dan menjadi ratu dari 70.000 malaikat dan bidadari dan akan dimandikan di dalam surga dan menunggang kuda yang dibuat daripada yaqut.

Wanita yang memerah susu binatang dengan menbaca Bismillah maka akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.

Wanita yang menumbuk tepung dengan membaca Bismillah maka Allah akan memberkati rizkinya.

Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir dapat pahala seperti menyapu lantai Baitullah.

Wanita yang menjaga shalat, puasa dan taat pada suami, Allah SWT mengizinkannya memasuki surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.

Kalau istri melayani suami tanpa khianat baginya pahala 12 tahun shalat.

Pahala bagi wanita hamil yaitu seperti berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari.

Wanita yang bersalin dapat pahala 70 tahun shalat dan puasa dari setiap kesakitan pada satu uratnya maka Allah beri pahala haji.

Sekiranya wanita itu meninggal dalam masa 40 hari selepas bersalin, ia tergolong sebagai mati syahid.

Kalau wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo yakni 2 tahun, maka malaikat-malaikat di langit akan mengabarkan beria bahwa surga wajib baginya.

Wanita yang memijit suaminya tanpa disuruh baginya pahala 7 tola emas, manakala wanita memijit suaminya disuruh akan dapat pahala 7 tola perak.

Wanita yang meninggal dunia dengan keridhoan suaminya akan masuk surga.

Jika suami mengajar istrinya 1 masalah agama, baginya mendapatkan pahala 80 tahun ibadah.

Semua orang akan melihat dan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat nanti, namun Allah akan mendatangi sendiri kepada wanita yang memberati/menjaga auratnya secara sempurna di dunia ini dengan istiqamah.

Wanita yang mencuci baju suaminya akan menghapus 2.000 dosa bersama tetesan air yang jatuh.

Wanita yang mencuci baju suaminya yang digunakan keluar di jalan Allah, maka debu yang menempel di baju dan tersentuh oleh kulitnya maka kulitnya tidak akan disentuh api neraka sekalipun asapnya.

Wanita yang membuat makanan terbuat dari tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah menetapkan pada setiap biji tepung itu kebajikan, menghapus kejelekan, dan meninggikan derajatnya.

Wanita yang berkhidmat melayani suaminya sehari semalam dengan suka cita dan penuh keikhlashan serta niat yang benar, Allah akan mengampuni dosanya dan memakaikannya pada hari kiamat dengan pakaian hijau gemerlap dan Allah menetapkan setiap rambut ditubuhnya 1.000 kebaikan dan Allah memberinya pahala 100 ibadah haji dan umrah.

Wanita yang membentangkan tempat tidur untuk suaminya dengan senang hati, maka malaikat pemanggil dari langit akan menyerunya untuk menghadapi amalnya dan Allah mengampuni dosanya yang sudah lalu dan yang akan datang.

Wanita yang meminyaki rambut serta janggut suaminya dan mencukur kumisnya serta memotong kukunya maka di akhirat Allah SWT akan memberikan kepadanya arak yang masih tertutup, murni dan belum terbuka dari sungai-sungai dalam surga. Allah akan mempermudah sakratulmautnya, kuburnya akan ditemui sebagai taman-taman surga dan Allah menetapkan baginya bebas dari neraka dan dapat melewati titian shirat dengan selamat.

Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat 1.000 kebaikan dan mengampuni kesalahannyabahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memintakan ampun baginya, serta Allah mengangkat 1.000 derajat baginya.

Jihad seorang wanita adalah mengurus suaminya dengan baik
Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam dan shalat, lalu membangunkan suaminya dan ikut shalat, bila suaminya enggan maka ia percikkan air di mukanya.
Seorang wanita yang meminyaki rambut kepala anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencucikan pakaiannya maka Allah SWT menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan 1000 orang yang kelaparan dan memberi pakaian kepada 1000 orang yang telanjang.
Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa persusuannya seperti pejuang di garis depan fi sabilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu tersebut maka sesungguhnya baginya pahala mati syahid.
Jika wanita mengandung anak di perutnya, maka para malaikat akan memohonkan ampunan baginya, dan Allah SWT menetapkan baginya setiap hari 1.000 kebaikan, menghapuskan 1.000 kejelekan. Ketika wanita itu merasa sakit saat melahirkan, maka Allah menetapkan baginya pahala para pejuang di jalan Allah. Jika ia melahirkan bayinya, maka keluarlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya dan tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosapun, di kuburnya akan di tempatkan di taman-taman syurga. Allah memberinya pahala 1.000 ibadah haji dan umroh dan 1.000 malaikat memohon ampunan baginya hingga hari kiamat.
Jika wanita hamil dari suaminya, sedangkan suami ridho padanya, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa yang berjuang di jalan Allah.
Wanita yang merasa kesakitan ketika melahirkan akan mendapatkan pahala yang tidak terhitung banyaknya.
Wanita yang menyusui anaknya, maka setiap tetesan susunya akan diberi pahala satu kebaikan. Dan jika tidak dapat tidur semalam suntuk karena anaknya, maka baginya pahala seperti memerdekakan 70 hamba sahaya di jalan Allah dengan penuh keikhlashan.
Wanita yang memberi minum anaknya di waktu kecil, kelak di hari kiamat Allah SWT akan memberinya 70 teguk air dari telaga kautsar.
Wanita yang kematian tiga orang anaknya di waktu kecil maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.
Wanita yang paling baik di kalangan wanita akan memasuki syurga sebelum orang yang paling baik di kalangan laki-laki. Mereka akan mandi dan memakai minyak wangi dan menyambut suaminya di atas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka anak-anak kecil.
0 komentar

Bayan Subuh, Nizamuddin 20 Januari 2009

11 Mei 2009 in Bayan | Tags: Bayan, Nizamuddin

Allah terima suatu amalan jika hatinya ikut sehingga Allah akan memberinya taufiq. Kerja dakwah ini adalah usaha untuk menjadi orang kecil (‘abdi) bukan untuk menjadi orang besar. Orang yang buat kerja dakwah dengan niat untuk mengishlahkan diri sendiri maka ia akan menjadi shaleh dan orang yang shaleh akan menjadi asbab untuk orang lain menjadi shaleh juga.

Dakwah adalah fardhu ‘ain. Manfaat kerja dakwah yang pertama adalah untuk diri sendiri, maka Allah akan melindunginya dari kesesatan.

Maulana Ilyas pernah berkata, ada 2 (dua) orang yang terkebelakang dari usaha ini :
Niat untuk mengishlah orang lain
Mau mengishlah kerja ini

Tarbiyah dan mujahadah dalam kerja ini akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Kerja ini akan menghasilkan hidayah untuk dua bagian :
Untuk diri sendiri
Untuk menjadi asbab hidayah bagi orang lain

Tufail telah datang ke Mekkah dengan menutupi kupingnya sehingga apa yang dikatakan Nabi ia tidak mendengarkannya. Ketika dia dekat dengan Nabi maka kemudian Allah ingin memberikan hidayah dengan membuat Tufail ingin membuka tutup kupingnya. Lalu dia dapat mendengar akan bacaan shalat Nabi sehingga ia masuk Islam. Tufail melakukan dakwah dalam satu tahun hasilnya 80 keluarga masuk Islam.

Firman Allah dalam AlQuran : “Dan siapakah yang paling baik perkataannya daripada Orang yang mengajak (dakwah) kepada Allah dan Beramal Shalih dan berkata sesungguhnya saya bagian dari muslimin.”

Gabungan Dakwah dan Amal akan meningkatkan Ibadah. Jika ibadah baik maka kita akan menjadi shaleh. Pertama kali yang akan kita masukkan ke dalam diri kita adalah Iman.

Tanpa adanya Iman kesempurnaan amal tidak akan didapat.

Tanpa adanya Iman keterkabulan amal tidak akan didapat.

Nabi berkata kepada Hadi bin Hatim, : kamu terlambat masuk Islam karena kamu melihat keadaan orang Islam yang miskin, susah, dll sehingga kamu terhalang dari hidayah. Rasul katakan bahwa Islam akan mengalahkan Kisra dan Islam menjadi jaya dan akhirnya Hadi bin Hatim pun melihat kemenangan dan kejayaan Islam.

Penghubung antara orang Islam dan Allah adalah amal.

Di dalam majlis iman ada perkara yang ghaib. Di dalam iman ada qudrat. Qudrat tidak ada di alam semesta namun qudrat ada di dalam zat AllahSWT.

Dengan kerja dakwah ini kita betulkan Aqidah kita, bahwa perkara yang ghaib hanya Allah saja mempunyai bahkan Nabi-Nabi pun tidak. Jika seorang Nabi mengetahui hal-hal yang ghaib, maka Nabi Yusuf as tidak akan masuk ke dalam sumur dan dijual menjadi budak. Begitu pun ketika Rasul diundang ke suatu walimah dia disambut oleh anak perempuan kecil dan anak kecil itu berkata : “kita bersama Rasul yang mengetahui hal yang ghaib”, maka Rasul katakan kepada anak itu : “Jangan katakan seperti itu, karena hal yang ghaib hanyalah milik Allah”.

Nabi katakan : “Jika kamu membaca Al Quran dengan teliti. Allah akan member tahu apa yang akan terjadi sampai dengan hari kiamat.

Ada seorang shahabat di penjara dalam keadaan junub dan air yang ada hanya cukup buat minum. Maka ia berkata kepada penjaga penjara, “tolong berikan air yang buat jatah besok sekarang saja, karena untuk berhadast”. Namun penjaga tersebut tidak memberikan. Maka ia berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan, maka Allah SWT, maka Allah pun menurunkan di penjara. Begitulah yakinnya para shahabat kepada Allah SWT.

Banyak orang mengatakan, “Itukan shahabat, bukan kita”. Hari ini kita begini karena kita tidak yakin dan aqidah yang lemah. Apabila kita memiliki yakin yang benar kepada Allah maka tidak ada hijab antara Allah dengan hambanya.

Abdullah bin Mas’ud ra suatu ketika isterinya sakit mata, maka datanglah seorang yahudi dan diberikan benda yang diletakkan di lehernya, maka matanya pun sembuh. Ketika suaminya melihat itu maka ia bertanya kepada isterinya apa itu? Isterinya berkata benda ini dapat menyembuhkan. Maka suaminya menyuruh untuk membuang benda tersebut. Mari saya beritahu kepada kamu, mata kamu sakit karena syaithan menaruh jarinya pada kamu. Dan orang yahudi itu menyembuhkan karena ia menghalangi jari syaithan tersebut dan yahudi itu pun syaithan. Cukuplah kamu meminta kesembuhan kepada Allah.

Jika kita mendapatkan benda dan benda tersebut memberikan kita kejayaan maka itu berarti telah menjauhkan kita dari Allah SWT. Jika kita mendapatkan benda yang memberikan kejayaan langkah pertama lihat dulu apakah benda itu HALAL atau HARAM.

Maulana Yusuf Katakan: “Nafikan benda-benda, sehingga antara kamu dengan Allah tidak ada hijab. …. Dan seterusnya… bayan belum lagi usai.
0 komentar

Kargozari dari jamaah pakistan

Kargozari ini sebetulnya udah lama sekali sekitar bebeapa pekan setelah lebaran Idul Fitri, namun karena keinginan menulis baru ada saat ini jadi saya mohon maaf kepada semuanya.
Jamaah Pakistakan menceritakan yang kurang lebih seperti ini :
Dalam usaha Da’wah ini kita harus yakin benar kepada Allah bahwa apabila kita menolong Agama Allah maka Allah akan tolong kita, berikut ini akan saya sampaikan kisah yang mana kisah ini tidak terjadi di jaman para sahabat r.hum tetapi terjadi pada jaman kita saat ini. Hal ini membuktikan apabila kita buat kerja yang sama dengan Rasulullah SAW dan para sahabat r.hum maka pertolongan Allah yang datang kepada Rasulullah SAW dan para sahabat r.hum akan datang juga kepada kita.
Suatu ketika seorang karkun di pakistan telah datang kepadanya nisab untuk keluar ke negeri jauh, tetapi dia sudah tidak mempunyai uang yang akan dikorbankan dan benda berharga yang bisa dikorbankan, tinggal sebuah rumah yang dia tinggali bersama dengan istri dan anaknya. Tapi dalam hatinya karena dorongan niat yang kuat dia semakin ingin untuk keluar ke negeri jauh maka dia bermusyawarah dengan keluarganya. Dan hasilnya istrinya yang terbiasa dengan perjuangan da’wah pun mendorong dan membantu suaminya untuk keluar di Jalan Allah, sehingga mereka pun menjual rumah mereka dan rela untuk hidup dengan menggunakan tenda saja. akhirnya karkun tersebut pun keluar ke negeri jauh dan istrinya di tinggal di sebuah tenda dengan anaknya.
Pada suatu hari saudara dari istri karkun ini datang untuk silahturahmi dan melihat keadaan saudaranya ini. Saudara istri karkun ini pun sedih melihat keadaan saudarinya yang ditinggal suaminya dan hanya hidup di tenda dengan anaknya. Tapi istri karkun ini tak pernah mengeluh kepada saudaranya yang datang menengoknya. Tanpa disengaja saudara istri karkun ini melihat ada seekor burung diikat di ranjangnya. kemudian saudara istri karkun ini bertanya kepada istri karkun tersebut, “darimana kamu dapatkan burung itu ?”.
Jawab istri karkun,”oh, burung itu aku dapatkan ketika tadi pagi dia mengganggu anak-anak ayamku, sehingga aku datangi dia dan aku tangkap lalu aku ikat burung itu di ranjang.”
Kata saudara istri karkun, ” Kamu tahu nggak burung apa itu ?”.
Jawab istri karkun dengan polos,”Nggak tahu, pokoknya aku tangkap aja karena dia udah mengganggu anak-anak ayamku.”
Kata saudara istri karkun, ” Ini burung jenis burung elang yang langka, para pengusaha banyak yang mencari burung ini sekarang, harganya bisa ratusan juta ini, mau nggak aku bantu ngejual burung ini supaya uangnya bisa buat bantu kamu beli rumah lagi.”
Jawab istri karkun, ” ya udah jual saja.”
Akhirnya saudara istri karkun itu pun menjual burung elang yang langka tersebut. Dan memang benar haganya ratusan juta, sehingga hasil dari penjualan burung itu pun digunakan istri karkun untuk membeli sebuah rumah yang baru lagi. Maka ketika karkun selesai keluar negeri jauh dan kembali pulang, dia tidak masuk tenda tapi tetap masuk ke dalam rumah.
Kata jamaah Pakistan tentu saja saya juga belum kuat untuk mengamalkan perkara ini tapi setidaknya bisa menjadi pelajaran bahwa usaha da’wah ini yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan dengan tertib serta musyawarah akan mendatangkan pertolongan Allah sebagaimana Allah tolong Rasulullah SAW dan para sahabat r.hum.
Marilah sama-sama kita azamkan dalam diri kita untuk lebih sungguh-sungguh lagi dalam usaha da’wah ini. Janji Allah lebih pasti dari pada terbitnya matahari dari arah timur. Mari kita persiapkan takazah 13.240 jamaah dalam tahun 2009 ini, jangan hanya lewat tulisan saja tetapi bergerak ke seluruh alam. Usaha ini butuh pengorbanan harta, diri, waktu, perasaan, dan harga diri. Kita korbankan semuanya di Jalan Allah.
Minggu, 07 Juni 2009 2 komentar

Laporan jamaah arab 40 hari 1 mei 2009

Alhamdulillah, 1 jama’ah dari Jeddah dan Makkah sedang bergerak di Bandung selama 2 pekan. Kemarin Amir nya memberikan bayan di malam markaz. Amirnya bekerja di Saudi Airlines, tapi juga seorang Hafidz 30 juz dan ‘alim. Total jama’ah ada 5 orang.
Alhamdulillah, kerja da’wah di Saudi berkembang pesat walaupun kerja mereka masih tidak terang-terangan seperti di Indonesia terkait dengan pemerintahan disana. Mereka masih dapat mengeluarkan jama’ah 4 bulan dan 40 hari dengan lancar. Jama’ah ini sendiri bergerak 40 hari di Indonesia.
Para ‘ulama disana alhamdulillah senang dengan usaha da’wah. Begitu juga para imamnya. Mereka sudah bersilaturahim dengan Imam As Sudais, Ash Shuraim dan lainnya, dan mereka senang dengan usaha ini. Adik dari pengarang buku Laa Tahzan juga aktif dalam usaha da’wah ini. Sedangkan abangnya (sang pengarang) sudah ada keniatan untuk keluar beberapa hari, tapi belum menjumpai waktu yang pas. InsyaAllah do’akan saja…
Beberapa karguzari dari jama’ah ini [di tarjimkan oleh ust. Husni Cianjur]:
Satu jama’ah dari Mesir dikirim ke daerah pedalaman Sudan. Daerah tersbut hanya bisa ditempuh dengan mengendarai onta. Mereka berjalan hingga memasuki daerah pedalaman tersebut. Dan masyaAllah dan Na’udzubillah, sesampainya di sana, mereka menjumpai beberapa wanita Germany yang telah lama tinggal disana dan bekerja sebagai misionaris. Ajib, wanita-wanita Germany ini sudah tinggal disana sejak lama dan berhasil mengKristenkan hampir seluruh penduduk di daerah tersebut.
Akhirnya jama’ah bergerak di daerah tersebut selama 40 hari. Dan alhamdulillah, mereka berhasil mengislamkan kembali para muslim yang telah murtad tersebut. Gereja yang telah mereka dirikan, berubah jadi Masjid. Sekolah yang di bangun misionaris juga berubah jadi madrasah.
Beberapa pemuda asli diajak oleh jama’ah untuk belajar ke Mesir. Subhanallah, inilah asbab dari kehidupan mereka yang sederhana dan jauh dari kehidupan kota. Kehidupan mereka [yang tinggal di daerah pedalaman Sudan tsb] sangat jauh dari teknologi. Tak ada TV, radio dan sejenisnya. Jual beli masih menggunakan sistem barter dan tak ada mata uang. Para pemuda Sudan tsb memiliki kecepatan hafal yang sangat tinggi. Ketika guru mereka membaca 1 hadits, maka mereka langsung dapat menghafal hadits tersebut. Akhirnya selama lebih kurang 4 bulan mereka telah dapat menghafal banyak hadits. AKhirnya mereka pulang menjadi ulama’ di kampung mereka, Sudan pedalaman tsb.
Salah seorang dari mereka telah berda’wah ke Italy. Ketika itu sedang ada jaula/silaturahim berjama’ah. Pada saat yang lain, seorang dedengkot mafia sedang dikejar-kejar oleh polisi dengan mengendarai mobil. Mafia tersebut lalu melompat dari mobilnya dan menyelinap masuk ke dalam rombongan jaula tersebut. Anehnya, para polisi tersebut tidak menemukan si mafia ini. Maka mafia ini mengikuti jama’ah sampai ke masjid dan duduk dalam majlis. Ketika itu juga dia masuk islam dan bersyahadat dan mengikuti jama’ah tersebut keluar selama 40 hari. Setelah keluar 40 hari, ia langsung berangkat 4 bulan India Pakistan dan Bangladesh.
MasyaAllah, setelah ia pulang dari 4 bulan IPB, ia menjumpai anak buahnya dan mengajak mereka untuk masuk islam. Akhirnya, sekitar 1200an anak buahnya memeluk islam. Dan mereka mendirikan lebih kurang 15 masjid di seluruh Italy.
Smoga Allah azza wa jalla menjadikan kita asbab hidayah untuk umat seluruh alam. Menyebarkan rezeki kita ke seluruh alam dan menjemputnya dengan keluar fii sabilillah. Smoga Allah azza wa jalla menerima seluruh pengorbanan kita dan memperbaiki iman dan amal kita. Aamiin…
1 komentar

Ciri Dakwah Ke-Nabi-an

Agama akan tetap ada di muka bumi ini mana kala masih ada orang yang mau usaha atas agama ( dakwah ) Apabila dimuka bumi ini sudah tidak ada lagi yang mau buat ini usaha ( dakwah ) maka pasti dan pasti Allah swt akan hancurkan kita, sebagaimana Allah swt hancurkan umat-umat terdahulu. Andai hari ini Allah swt bangkitkan Fir’aun di tengah-tengah kita pasti dan pasti ia akan berkata bahwa segala apa yang dia usahakan dahulu adalah sia-sia
Lantas dakwah seperti apa yang harus kita buat??? Ya tentu saja dakwah yang mencontoh Rasulullah saw dan para sahabat r.a. Bila kita mau melihat sejarah maka dapat di lihat ada beberapa kesamaan dahwah para nabi dan rasul dari jaman Nabi Adam sampai Rasulullah saw , dan dari banyak kesamaan itu beberapa diantaranya :
1. Seluruh Nabi dan Rasul berdakwah hanya mengajak bagaimana agar seluruh manusia mengenal dan taat kepada Allah swt bukan kepada dirinya , partainya atau golongannya, melainkan hanya kepada Allah swt . “Ya ayuhannas, quuluu la ilaha illallah Tuflihuu ( Hai manusia ucaplah kalimah Laailaahaillallah, kamu akan berjaya )” . Bukan menyeru wahai manusia masuklah ke partaiku maka kamu akan berjaya, melainkan seluruh Nabi dan Rasul hari-hari hanya berpikir tentang perkara agama saja, berpikir bagaimana kebesaran Allah swt masuk kedalam hati-hati umat manusia, bahwa yang memberi rezki , yang menghidupkan , yang mematikan, yang maha besar hanyalah Allah swt. Seluruh nabi dan rasul hari-hari berpikir bagaimana umat menafikan diri mereka dan mengisbatkan segala sesuatu hanya kepada Allah swt, mengecilkan makhluk dan hanya membesarkan Allah swt. Merubah yakin terhadap Mal ( harta ) manjadi yakin kepada Amal , dari yakin kepada dunia menjadi yakin kepada negeri akhirat.
2. Seluruh Nabi dan Rasul berdakwah dengan mengorbankan harta dan diri sendiri. Tidak ada satupun nabi dan rasul yang berdakwah untuk memperkaya dirinya, kita bisa lihat kehidupan Rasulullah saw dimana pernah di rumah beliau selama beberapa bulan tidak ada makanan yang bisa dimakan kecuali kurma dan air. Kita juga bisa lihat, sebelum masuk Islam Siti Khadijah , istri Rasulullah saw begitu kaya rayanya, tapi mana kala dia memeluk Islam dan mulai membantu rasulullah saw berdakwah maka ia korbankan harta bendanya sampai tak tersisa demi agama Allah swt. Bahkan para sahabat Rasulullah pun paham akan hal ini. kita bisa melihat Abu Bakar ra yang sebelum masuk Islam merupakan saudagar yang kaya raya, tapi ketika sudah masuk Islam dan mulai berdakwah ia korban kan seluruh hartanya, bahkan pernah dalam salah satu peperangan Abu Bakar menginfakan seluruh hartanya dan tidak meninggalkan sepeserpun untuk keluarganya. Sampai-sampai Asma r.ha ( putri Abu Bakar ra ) membohongin kakeknya yakni Abu Qahafah ( ayah Abu Bakar ra ) yang buta dan saat itu masih kafir dengan meletakan kerikil-kerikil kecil di tempat Abu Bakar ra biasa meletakan uangnya dan ditutupi dengan selembar kain agar kakeknya menyangkah bahwa ayahnya ( Abu Bakar ra ) meninggalkan harta sebagai bekal untuk anak-anaknya , padahal Abu Bakar ra tidak meninggalkan harta sedikitpun, itu di lakukan semata-mata agar kakeknya ( ayah Abu Bakar ra ) menjadi tenang. Coba bandingkan dengan keadaan kita hari ini , berapa banyak hari ini ahli dakwah yang mengunakan agamanya untuk menumpuk dunia, hari ini kehidupan kita kebalikan dari pada para sahabat nabi, kalau dulu sahabat kaya lantas ambil usaha dakwah korban harta habis-habisan kalau hari ini kita tidak ada harta lantas “mengambil keuntungan” dari dakwah Astaghfirullah , dulunya sebelum dakwah jalan kaki kini setelah berdakwah naik mobil ber AC dan sudah berani memasang tarif Astaghfirullah.
3. Seluruh Nabi dan Rasul berdakwah jumpa umat, dari lorong ke lorong , rumah ke rumah , kota ke kota, intinya setiap saat dan keadaan selalu menyeru umat kepada Allah swt, tidak pandang bulu baik dia saudara dekat maupun penguasa, baik dia rakyat jelata maupun saudagar kaya. Ulama bagi tahu, andaikan tapak kaki Rasulullah saw ini di cat merah maka seluruh kota Mekkah dan Madina berwarna merah , karena tidak ada satupun tempat disana yang tidak Rasulullah saw datangi. Terkadang Rasulullah berdakwah kepada keluarga yang terdekat dari kalangan suku Quraisy, dan terkadang Rasulullah saw berdakwah kepada kabilah-kabilah arab pada musim haji ( Bani Amir, Bani Muharib , Bani Ka’ab , Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Bakar , Bani Syaiban dan lain sebagainya ) , Rasulullah juga berdakwah ketika di pasar ( pasar Dzilmajaz ), Rasulullah juga meyampaikan dakwah ketika dalam perjalanan ( Pada waktu Hijrah ), dan Rasulullah saw juga pernah berdakwah dengan berjalan kaki ( ketika pergi ke Thaif ) dan Rasulullah saw juga berdakwah kepada raja-raja dengan melalui surat-surat yang di bawa oleh para sahabat. Pendek kata setiap saat dan keadaan Rasulullah saw dan para Sahabat selalu menyampaikan agama baik kepada keluarga maupun kepada orang yang tidak di kenalnya. Coba bandingkan dengan keadaan kita sekarang ini, terkadang kita sanggup bicara atau menulis tentang agama dengan begitu kerasnya seakan-akan kita yang paling benar dan yang lain salah , merasa kelompoknya sendiri yang benar dan yang lain ahli bid’ah , sampai-sampai menyesatkan bahkan sampai mengkafirkan, tapi ketika berada di tengah keluarganya, dia seperti kerupuk yang melempem terkena angin tidak ada suaranya, tidak berani membid’ahkan bahkan mengkafirkan, hanya berani melalui tulisan tanpa berani berhadapan langsung dengan umat. Astaghfirullah.
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan dakwah tapi rasanya dari ketiga poin diatas kita bisa belajar , ternyata begitu jauh sekali dakwah yang kita lakukan dengan apa yang dahulu Nabi dan Rasul lakukan. Oleh karena itu mulai detik ini setiap kita berniat meluruskan lagi niat kita dan berjanji menjadikan kerja dakwah sebagai kerja utama kita, apabila setiap kita sudah menjadikan kerja dakwah menjadi kerja utama kita maka Allah swt akan selesaikan seluruh permasalahan dunia dan akhirat kita.
Mari kita mulai berdakwah dari diri kita terlebih dahulu, mulai detik ini kita berjanji untuk memperbaiki yakin kita kepada Allah swt dan berusaha menghidupkan sunah Nabi saw selama 24 jam dari bangun tidur sampai tidur lagi, melaksanakan sholat wajib tepat pada waktunya dengan tertib dan dengan cara Rasulullah saw ( berjamaah dimana adzan di kumandangkan masjid / musholah ), mulai giat mencari ilmu yang di sertai dzikir kepada Allah swt dengan cara mendatangi para ulama, Menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap umat , selalu meluruskan niat kita dalam setiap beramal , baik diawal, di pertengahan maupun di akhir kita beramal, dan yang lebih penting lagi dari semua itu bagaimana kita sampaikan perkara agama ini kepada orang lain, karena barang siapa yang mengajak kepada suatu ke baikan maka ia akan mendapat pahala sebanyak orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Insya Allah kita semua niat amal.
Dan tak lupa bagaimana hari-hari kita bagun di sepertiga malam terakhir , sholat malam, nangis minta ampun kepada Allah swt karena telah lama melalaikan tugas untuk memperbaiki diri dan memperbaiki keluarga kita.
Semoga Allah swt memberi kemudahan untuk perkara ini dan memberikan ke ridhoan-Nya kepada kita semua . Amien
0 komentar

Rasulullah saw memberikan nasihat-nasihat (sebagai bekal) sebelum memberangkatkan pasukan-pasukan dakwahnya

Dari abduraahman bin ‘aid rhu, dia berkata, “ Adalah rasulullah saw apabila hendak mengirimkan pasukan, maka beliau memberi nasihat, “ Bersikap lembut dan sayanglah kepada orang-orang! Janganlah menyerang mereka sebelum kalian berdakwah kepada mereka, dan janganlah menghancurkan rumah-rumah mereka ! Jangan biarkan satu orang penghuni rumah pun yang ada di kota-kota maupun di desa-desa, kecuali kalian membawa mereka kehadapanku dalam keadaan muslim (telah memeluk islam) karena yang demikian itu lebih aku suka daripada kalian datang kepadaku dengan membawa istri-istri dan anak-anak mereka setelah kalian membunuh suami-suami mereka! (HR. Ibnu mandah dan Ibnu asakir dalam kitab al kanz jilid II halaman 294. Diriwayatkan pula oleh ibnu syahin dan al baghawi seperti terdapat dalam kitab ishaabah jilid III halaman 153, juga tirmidzi dalam kitabnya jilid I halaman 195)
Sumber: Hayatush shohabah, maulana yusuf rah, jilid1
0 komentar

Rasulullah saw mengirimkan jamaah untuk berdakwah

Nabi saw mengirim jamaah Abdurrahman bin auf rhu ke daumatul jandal untuk berdakwah
Dari ibnu umar rhuma dia menceritakan “Pada suatu hari rasululah saw memanggil Abdurrahman bin auf rhu, lalu beliau berkata “Bersiap siaplah! Aku akan mengutusmu bersama satu pasukan. Lalu perawi menyebutkan kisah selanjutnya yang didalamnya disebutkan bahwa ketika itu Abdurrahman bin auf rhu segera pergi sehingga dia dapar menjumpai kawan kawannya yang telah pergi terlebih dahulu. Lalu mereka berjalan bersama-sama sehingga sampai pada suatu tempat yang bernama Daumatul jandal. Ketika jamaah itu telah memasuki tempat yang dituju maka selama 3 (tiga ) hari mereka berusaha mengajak penduduk tersebut untuk masuk islam. Pada hari ketiga datanglah seorang lelaki bernama asbagh bin amar alkalbi dan langsung masuk islam, semula dia beragama nashrani dan dia adalah kepala kaum. Kemudian Abdurrahman bin auf menulis surat kepada rasulullah saw untuk memberitahukan tentang keislaman asbagh. Surat itu disampaikan oleh seorang dari juhainah bernama rafi’ bin mukits. Kemudian rasulullah saw pun menulis surat balasan kepada abduraahman bin auf yang isinya supaya Abdurrahman bin auf rhu menikahi anak perempuan asbagh yang bernama tumadhir. Maka merekapun menikah. Dari pernikahan mereka itu lahirlah seorang nak laki2 yang bernama abu salamah bin Abdurrahman. (HR. Duruqutni, seperti terdapat dalam kitab al ishaabah jilid 1 hal 108)
Nabi Saw mengutus jamaah khalid bin walid rhu ke Yaman..
Dari Barra rhu, bahwasanya rasulullah saw mengirim khalid bin walid rhu kepada penduduk Yaman untuk mengajak mereka masuk islam. Barra berkata, aku juga termasuk salah seorang yang ikut dalam jamaah tersebut. Kami tinggal disana selama 6 (enam) bulan. Khalid rhu selalu mengajak mereka untuk masuk islam , tetapi mereka menolak ajakannya. Kamudian Rasulullah saw mengutus Ali bin abi thalib rhu kesana. Dan memerintahkan kepada khalid bin walid rhu untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah khalid yang mau menemani ali rhu. Maka ia boleh ikut bersama ali rhu. Barra berkata, akulah yang menemani ali rhu selama disana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan datang ke hadapan kami. Lalu Ali rhu mengatur shaf mereka untuk mengerjakan sholat dan Ali yang menjadi imam dalam shalat kami, Selesai sholat Ali rhu membacakan isi surat dari rasulullah saw kepada mereka. Setelah mendengar isi surat dari rasulullah saw tersebut maka seluruh bani hamdan masuk islam. Kemudian ali bin abi tholib menulis surat kepada rasululah saw yang isinya memberitahukan kepada rasulullah saw yang isinya memberitahukan tentang keislaman mereka kepada beliau. Setelah Nabi saw membaca surat tersebut, maka beliau langsung bersujud syukur kepada ALloh SWT. Setelah mengangkat kepala beliau berdoa ”Keselamatan bagi bani hamdan, keselamatan bagi bani hamdan. (Hr baihaqi, Imam bukhori meriwayatkan secara ringkas seperti disebutkan dalam albidayah jilid V hal 105).
Sumber: Hayatush shohabat jilid I, maulana yusuf rah
Rabu, 03 Juni 2009 0 komentar

Silsilah Keturunan Maulana Muhammad Yusuf Al Kandahlawy Rah A

Tags: Muhammad Yusuf, Silsilah

Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi lahir pada 25 Jumada I, 1335 H, sesuai dengan 20 Maret 1917 di Kandahla di India. Keluarganya terkenal dengan keilmuan dan kesetiaan total dalam perjuangan Islam.

Ayahnya, Syaikh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi (wafat 1943), memainkan peranan penting dalam gerakan pemurnian yang dipimpin oleh dua ulama, Ahmad bin Muhammad Irfan dan Muhammad Ismail, dan keduanya wafat sebagai syuhada. Gerakan pemurnian yang bertujuan untuk menghapus semua penyimpangan dari kepercayaan rakyat dan kembali kepada agama Islam yang murni. Beberapa ulama dalam keluarganya belajar di bawah Syaikh Abd al-Aziz bin Ahmad bin Abd al-Rahim Al-Dahlawi, seorang ulama yang sangat terkemuka dalam ilmu Hadits. Sesungguhnya keluarga beliau menghasilkan barisan panjang ulama-ulama terkenal dalam ilmu Hadis, Fiqh, dan ilmu Islam lainnya.

Silsilah keturunan dari Garis Ayah:

Maulana Muhammad Yusuf anak dari Maulana Muhammad Ilyas anak dari Maulana Muhammad Ismail anak dari Syaikh Ghulam Hussein anak dari Hakim Karim Baksh anak dari Hakim Ghulam Mohiuddin anak dari Maulana Muhammad Sajid anak dari Maulana Muhammad Faiz anak dari Maulana Hakim Muhammad Syarif anak dari Maulana Hakim Muhammad Asyraf anak dari Syaikh Jamal Muhammad Syah anak dari Syaikh Nur Muhammad anak dari Syaikh Bahauddin Syah anak dari Maulana Syaikh Muhammad anak dari Syaikh Muhammad Fadhil anak dari Syaikh Qutb Syah.

Silsilah keturunan dari Garis Ibu:

Ibunya anak dari Maulvi Rauful Hasan anak dari Maulana Zia-ul-Hasan anak dari Maulana Nurul Hasan anak dari Maulana Abul Hasan anak dari Mufti Ilahi Baksh anak dari Maulana Syaikhul Islam anak dari Hakim Qutbuddin anak dari Hakim Abdul Qadir anak dari Maulana Hakim Muhammad Syarif anak dari Maulana Hakim Muhammad Asyraf anak dari Syaikh Jamal Muhammad Syah anak dari Syaikh Nur Muhammad anak dari Syaikh Bahauddin Syah anak dari Maulana Syaikh Muhammad anak dari Syaikh Muhammad Fadhil anak dari Syaikh Qutb Syah.

Garis silsilah keturunan ayah dan ibu dari keluarga Maulana Yusuf bertemu di Hakim Muhammad Syarif. Lalu garis silsilah keluarga keturunan mereka kembali ke Amirul Mukminin Hazrat Abu Bakar Siddiq RA. Kedua keluarga ini tinggal di desa Kandhala dan Jinhjana. Mereka terkenal dengan kereligiusan, keilmuan dan kesalehan.
0 komentar

Mengapa Khuruj 3 Hari, 40 Hari, 4 Bulan?

Jamaah Tabligh memiliki metode dakwah yang khas, yang menurut mereka adalah cara dakwah sebagaimana yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan tabiit tabiin. Bahkan para nabi-nabi terdahulu pun menggunakan metode dakwah dari rumah ke rumah. Bukan membuat majalah, lewat internet atau lainnya. Berikut ini adalah sebagian argumentasi mereka mengenai metode khuruj fisabilillah 3 hari, 7 hari, 10 hari, 40 hari atau 4 bulan.
Wassalam,
Abu Izza Adduri

Para Sahabat Keluar ke Jalan Allah:
Sebanyak 150 jemaah telah dikeluarkan dari Madinah dalam masa 10 tahun tersebut. Baginda s.a.w. sendiri telah menyertai 25 daripada jemaah-jemaah tersebut. Sebahagian jemaah tersebut terdiri daripada 10,000 orang, ada yang 1,000 orang, 500 orang, 300 orang, 15 orang, 7 orang dan sebagainya. Jemaah-jemaah ini ada yang keluar untuk 3 bulan, 2 bulan, 15 hari, 3 hari dan sebagainya. 125 jemaah lagi sebahagiannya terdiri daripada 1000 orang, 600 orang, 500 orang dan sebagainya dengan masa 6 bulan, 4 bulan dan sebagainya. Sekiranya kita menghitung dengan teliti maka akan didapati purata masa yang diberikan oleh setiap sahabat untuk keluar ke jalan Allah dalam masa setahun ialah antara 6 hingga 7 bulan.
(Petikan Bayan Maulana Yusuf: USAHA RASULULLAH SAW DAN SAHABAT RA DALAM KEHIDUPAN MADINAH)
Sahabat r.hum keluar 5 tahun:
Pada tahun 627M satu rombongan sahabat-sahabat Nabi S.A.W yang diketuai oleh Wahab bin Abi Qabahah telah mengunjungi Riau dan menetap selama 5 tahun di sana (sebelum pulang ke Madinah)
(dipetik dari kitab ‘Wali Songo dengan perkembangan Islam di Nusantara’,
oleh Haji Abdul Halim Bashah, terbitan Al Kafilah Enterprise, Kelantan, 1996, m/s 79, bab 9, ISBN 983-99852-8-0)
Sahabat r.hum keluar 6 bulan:
Bara r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah mengutus Khalid ibne-Walid r.a kepada penduduk Yamen untuk mengajak mereka masuk Islam. Bara berkata: Aku juga termasuk dalam jamaah itu. Kami tinggal di sana selama 6 bulan. Khalid r.a kerap mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak ajakannya.
Kemudian Rasulullah s.a.w mengutus ‘Ali ibne-Abi Talib r.a ke sana dan memerintahkan kepada Khalid r.a. untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah Khalid r.a. yang mahu menemani Ali r.a, maka ia boleh ikut serta dengan Ali r.a. Bara r.a berkata: Akulah yang menemani Ali r.a. selama di sana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan dan datang kehadapan kami. Lalu Ali r.a. mengatur saf mereka untuk mengerjakan solah dan Ali yang menjadi imam dalam solah kami. Selesai solah, Ali r.a membacakan isi surat Rasulullah s.a.w kepada mereka. Setelah mendengar isi surat Rasulullah s.a.w itu maka seluruh Bani Hamdan masuk Islam.
Kemudian Ali r.a. menulis surat kepada Rasulullah s.a.w yang kandungannya memberitahukan tentang keislaman mereka kepada baginda. Setelah isi surat tersebut dibacakan kepada Rasulullah s.a.w, maka baginda langsung sujud syukur kepada Allah s.w.t. Setelah mengangkat kepala, baginda berdoa: Keselamatan bagi Bani Hamadan. Keselamatan bagi Bani Hamadan.
(Bukhari, Baihaqi, Bidayah-wan-Nihayah)
(Dipetik dari kitab Muntakhab Ahadith, bab Dakwah dan Tabligh, hadith 108)
Keluar 4 bulan:
Ibn Juraij berkata: “Ada seseorang yang menceritakan kepada saya bahwa pada suatu malam ketika Umar r.a sedang berkeliling (ghast/jaulah) di sekitar lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang mengungkapkan sya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya. Daku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu. Andai bukan kerana takut berdosa kepada Allah yang tiada sesuatu pun dapat menyamaiNya, sudah pasti ranjang ini goyang oleh yang lainnya.
Ketika Umar r.a mendengar syairnya itu, maka dia bertanya kepada wanita tersebut, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Saya sangat merindukan suami saya yang telah meninggalkan saya selama beberapa bulan.” Umar r.a. betanya, “Apakah kamu bermaksud melakukan hal yang buruk?” Wanita itu menjawab, “Saya berlindung kepada Allah.” Umar r.a. berkata, “Kuasailah dirimu! Sekarang saya akan mengutus orang untuk memanggil suamimu.”
Setelah itu Umar r.a. bertanya kepada anak perempuannya Hafsah r.anha, “Aku akan bertanya padamu mengenai sesuatu masalah yang membingungkan aku, mudah-mudahan kamu boleh memberi jalan keluar untukku. Berapa lama seorang wanita mampu menahan kerinduan ketika berpisah dari suaminya?” Mendengar pertanyaan itu, Hafsah r.anha menundukkan kepala merena merasa malu. Umar r.a. berkata, “ Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa malu dalam hal kebaikan.” Hafsah menjawab sambil berisyarat dengan jari tangannya, “Tiga sampai empat bulan.”
Kemudian Umar r.a. menulis surat kepada setiap amir (pimpinan) pasukan tentera Islam supaya tidak menahan anggota pasukannya lebih dari 4 bulan.”
(Riwayat Abdur Razzaq dalam kitab Al-Kanz Jilidl VIII, m/s.308).
Ibnu ‘Umar r.a mengatakan bahawa pada suatu malam Umar r.a. keluar (untuk melihat ehwal orang ramai), tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang bersya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya. Aku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu. Kemudian Umar r.a. bertanya kepada Hafsah r.anha, “Berapa lama wanita dapat bertahan tidak bertemu dengan suaminya?” Hafsah r.anha menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar r.a. berkata,
“Untuk selanjutnya saya tidak akan menahan tentera lebih dari masa itu.”
(Hr. Baihaqi dalam kitabnya jilid IX m/s 29)
[seperti yang dipetik dari kitab Hayatus Sahabah, bab Al-Jihad]
Keluar 40 hari:
“Seorang lelaki telah datang kepada Saiyidina Umar ibnu Khattab r.a. maka Saiyidina Umar r.a. pun bertanya: Di manakah engkau berada? Dijawabnya: Saya berada di Ribat. Saiyidina Umar r.a. bertanya lagi: Berapa hari engkau berada di Ribat itu? Jawabnya tiga puluh hari. Maka berkata Saiyidina Umar r.a.: Mengapa kamu tidak cukupkan empat puluh hari?
(Kanzul Ummal, Juzuk 2 muka surat 288, dipetik dari kitab ‘Risalah ad Dakwah - Apa itu Dakwah Tabligh’, susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)
Keluar 3 Hari:
Daripada Ibnu Umar r.a. berkata: Nabi s.a.w telah memanggil Abdul Rahman bin Auf r.a. lalu bersabda: Siap sedialah kamu, maka sesungguhnya aku akan menghantar engkau bersama satu jama’ah maka menyebut ia akan hadis dan katanya: Maka keluarlah Abdul Rahman hingga berjumpa dengan para sahabatnya, maka berjalanlah mereka sehingga sampai ke suatu tempat pertama bernama Daumatul Jandal, maka manakala ia masuk ke kampung itu ia mendakwah orang-orang kampung itu kepada Islam selama tiga hari. Manakala sampai hari yang ketiga dapat Islamlah Asbagh bin Amru al Kalbi r.a. dan adalah ia dahulunya beragama Nasrani dan ia ketua di kampung itu.
(Hadith riwayat Darul Qutni, dipetik dari kitab ‘Risalah ad Dakwah - Apa itu Dakwah Tabligh’, susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)
Fatwa Ulama:
Oleh Mufti Ebrahim Desai, Darul Ifta, Madrasah In’aamiyyah, Camperdown, South Africa.
Istilah, ‘Tashkil’ (yang biasa digunakan dalam Jamaah Tabligh), bermaksud menyeru orang ramai kaum Muslimin untuk memberi masa mereka, untuk keluar ke Jalan Allah bagi tujuan pengislahan diri dan membuat kerja dakwah dan tabligh dalam jangka masa tertentu, seperti 3 hari, 10 hari, 15 hari, 40 hari, 4 bulan, 7 bulan, 1 tahun dan sebagainya.
Jangkamasa tersebut bukan satu kemestian tapi ianya hanya dianjurkan seperti mana seseorang yang mengikuti kursus kecemasan (first aid), misalnya, dianjurkan untuk mengikuti kursus praktikal selama sebulan. Walaupun tidak bermakna yang dia terus akan jadi doktor pakar, sekurang-kurangnya dia tahu apa yang perlu dia lakukan semasa kecemasan. Begitu juga, seseorang yang keluar ke Jalan Allah selama 3 hari, atau 40 hari, atau 4 bulan dan sebagainya, bukan bermakna dia telah menjadi seorang yang ahli atau pakar dalam Syariah, tapi sekurang-kurangnya dia tahu apa kehendak-kehendak asas dalam Syariah.
Lebih lama masa yang dia berikan untuk keluar ke Jalan Allah, lebih banyak dia akan belajar dan menyempurnakan dirinya sebagai seorang Mukmin. Jangkamasa keluar tersebut bukanlah kriteria yang diwajibkan mengikut Syariah.. Dan Allah Maha Mengetahui.
(Mufti Ebrahim Desai, FATWA DEPT, Jawapan No. 2611)
Mereka berkata: Orang-orang Tabligh membuat bida’ah berupa keluar di jalan Allah secara berjemaah dan membatasi masa keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.
Kami katakan:
Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk menuntut ilmu dan hidayah. Juga seperti keluar untuk mendakwah manusia kepada Allah dan mengajar mereka hal-hal yang bermenafaat di dunia dan akhirat. Semuanya itu adalah keluar di Jalan Allah, apabila di landasi niat yang benar dan untuk mengapai redha Allah s.w.t, bukan untuk memperolehi harta dan penghormatan atau untuk hiburan, permainan dan kebatilan.
Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka dan mendidik rohani mereka.
Padahal Rasulullah s.a.w bersabda, “Sepetang atau sepagi keluar di jalan Allah, lebih baik daripada mendapatkan dunia dan segala isinya.
Juga sabda Rasulullah s.a.w, “Barangsaiapa mendatangi masjid ini, semata-mata untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid fi sabilillah.”
Dan banyak lagi hadith sahih dan hassan yang mengajarkan dan memberi semangat untuk keluar di Jalan Allah. Alangkah ajaibnya perkataan mereka bahawa keluarnya Jemaah Tabligh adalah bida’ah! Dan lebih ajaib lagi mereka berhujah terhadap “keluar fi sabilillah secara berjemaah adalah bida’ah” dengan jangkaan mereka bahawa Rasulullah s.a.w mengirimkan Mu’az r.a ke Yaman bersendirian saja dan tidak berjemaah.
Mereka lupa atau tidak tahu bahawa Rasulullah s.a.w tidak mengirimkan Mu’az r.a sendirian tetapi mengirimkan Abu Musa Al Asy’ary r.a bersamanya. Baginda s.a.w bersabda kepada keduanya, “Gembirakanlah mereka dan jangan kalian buat mereka lari. Mudahkan mereka dan jangan kalian menyusahkan. Bertolong-tolonglah kalian dan jangan berselisih.”
Juga beliau mengirimkan Ali bin Abi Talib dan Khalid bin Sa’id bin al Ash r.huma. Bersama mereka baginda s.a.w mengirimkan rombongan besar untuk dakwah, ta’lim dan memutuskan perkara diantara manusia.
Tentang pembatasan masa keluar yang mereka katakan sebagai Bidaah, adalah peraturan dakwah sebagaimana peraturan sekolah dan universiti yang mengenal batasan masa belajar dan kerehatan, untuk menyiapkan bekal dan perbelanjaan selama masa keluar. Apakah dengan demikian, orang-orang Tabligh dianggap membuat bida’ah kerena mereka mengatur hari-hari untuk kepentingan dan khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah)?
Alhamdulillah.
Ditulis oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy,
Mudir di Masjid Nabawi dan Universiti Madinah Al-Munawarrah
Dipetik dari buku “Menyingkap Tabir Kesalahfahaman Terhadap Jemaah Tabligh
Abu Abil Hasan (bekas pelajar Darul Uloom Faisalabad Pakistan) menulis:
Dakwah dan Tabligh ialah kerja para Anbiya. Dan inilah juga usaha yang telah dipertanggungjawabkan oleh Allah kepada seluruh umat Islam. Maksud kepada usaha ini ialah supaya seluruh manusia dapat mengamalkan keseluruhan agama. Usaha untuk menghidupkan agama ini tidak memadai dengan hanya memberi masa 3 hari 40 hari dan 4 bulan. Bahkan harus berjuang dan berjihad seumur hidup kita.
Ini telah dijelaskan oleh Allah SWT didalam al-Qur’an:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan (balasan) syurga untuk mereka (disebabkan) mereka berperang dijalan Allah: maka (diantara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah didalam Taurat Injil dan Al-Qur’an; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu bergembiralah dengan jualbelinya itu dan (ketahuilah bahawa) jualbeli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar. (At-Taubah ayat 111).
Dalam ayat yang tersebut diatas Allah telah membeli dan meminta keseluruhan hidup orang-orang mukmin dan harta mereka untuk berjuang menegakkan agama Allah. Bukan setakat 4 bulan 40 hari sahaja. Tetapi malangnya pada hari ini umat Islam untuk melaksanakan satu perintah Allah yang paling besar iaitu sembahyang yang hanya mengambil masa beberapa minit sahaja pun sudah tidak ada masa kerana sibuk dengan fikir dan kerja-kerja dunia. Apa lagi untuk keluar seumur hidup.
Umat hari ini telah jauh daripada agama. Kemampuan yang ada pada mereka juga berbeza-beza. Melalui panduan Al-Qur’an dan Hadith, para Ulama’ dan masyaikh di dalam jemaah ini telah menetapkan nisab yang mampu diikuti oleh setiap umat Islam. Memanglah tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk keluar bertabligh selama 4 bulan dan 40 hari tetapi bilangan dan angka ini banyak terkandung didalam Al-Qur’an dan hadith.
Kenapakah angka-angka ini tercatit didalam Al-Qur’an dan Hadith? Sudah pasti ada hikmahnya di sebalik angka itu. Disini saya nukilkan beberapa riwayat dan pandangan Ulama’ betapa hikmahnya bilangan hari-hari tersebut.
1. Hikmah keluar tiga hari
i. Suasana amat mempengaruhi seseorang itu. Seorang yang duduk di dalam suasana Iman dan akhlak yang baik dan dipenuhi dengan ibadat dalam masa tiga hari sudah pasti akan membenihkan satu suasana dan kejernihan hati didalam sanubari seseorang itu. Di zaman Nabi s.a.w orang-orang kafir yang ditawan akan dikurung didalam masjid. Tujuannya ialah supaya mereka dapat melihat amalan-amalan orang Islam didalam masjid.
Didalam Sahih Bukhari jilid kedua bab Maghazi dinukilkan bahawa seorang lelaki bernama Sumamah bin Ausal dari banu Hanafiah telah ditawan dan diikat didalam masjid Nabawi. Selama 3 hari beliau telah melihat amalan orang Islam yang sibuk dengan amalan dakwah. belajar dan mengajar. beribadat dan berkhidmat diantara satu sama lain.
Hari yang pertama beliau ingkar untuk menerima Islam. Begitu juga pada hari yang kedua. Pada hari yang ketiga baginda Rasulullah s.a.w telah membebaskannya. Setelah dibebaskan dari tawanan beliau merasai sesuatu didalam hatinya lantas beliau mandi dan datang semula ke masjid Nabawi dan bertemu dengan baginda Rasulullah s.a.w dan terus memeluk agama Islam. Betapa besarnya perubahan pada diri Sumamah yang amat berkesan dengan amalan masjid pada ketika itu. Dalam masa tiga hari menjadi sumber hidayat kepadanya.
ii. Jemaah-jemaah yang dihantar oleh baginda Rasulullah s.a.w atas maksud dakwah atau berjihad akan diberi penerangan tertib dan usul bagaimana untuk berdakwah dan berperang. Diantaranya ialah:
• Jangan memerangi mereka sebelum diberi dakwah selama 3 hari.
• Jangan membunuh kanak-kanak. wanita dan orang-orang tua yang lemah dikalangan mereka.
• Jangan membuat kerosakan pada harta benda. tanam-tanaman dan membunuh binatang ternakan.
Kenapa baginda memberi tempoh selama 3 hari dengan memberikan dakwah terlebih dahulu sebelum memulakan peperangan?
Ini ialah pengajaran daripada baginda Rasulullah s.a.w bahawa didalam Islam tidak ada peperangan tanpa memberi dakwah terlebih dahulu. Melalui amalan dakwah selama 3 hari ini orang-orang kafir akan melihat muamalah dan akhlak orang-orang Islam terhadap orang kafir sendiri. Ini sudah pasti akan mempengaruhi jiwa mereka dan memeluk agama Islam.
Kisah ini terkandung didalam Hayatus Sahabah dimana baginda Rasulullah s.a.w telah menghantar Abdul Rahman bin Auf r.a. ke satu tempat bernama Daumatul Jandal sebagaimana berikut:
Sehingga beliau sampai ke Daumatul Jandal lantas beliau mendakwahkan kepada mereka (penduduk Daumatul jandal) selama tiga hari supaya memeluk agama islam. Maka pada hari yang ketiga Asbagh bin Amar Al Kalbi telah memeluk agama Islam. Beliau ialah seorang nasrani dan ketua di kalangan mereka.
iii. Hadzrat Zakaria a.s seorang Nabi yang telah tua. Apabila Allah s.w.t mahu mengurniakan anak kepadanya beliau bertanya “Wahai Allah apakah tandanya yang engkau akan mengurniakan anak kepadaku sedangkan aku telah tua? Allah s.w.t menjawab sebagaimana didalam Al-Qur’an:
Tandanya bagimu kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Berzikirlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah diwaktu pagi dan petang (Ali Imran ayat 41)
Para mufassirin berkata tanda diterimanya doa Hadzrat Zakaria a.s ialah dia tidak boleh bercakap selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Pada masa itu Allah s.w.t telah memerintahkan Hadzrat Zakaria a.s supaya berzikir sebanyak-banyaknya dan meninggalkan perkataan-perkataan dunia untuk menambah penghampirannya kepada Allah.
Daripada ayat ini para ulama’ berpendapat bahawa sekiranya manusia dapat mengasingkan diri keluar dijalan Allah selama tiga hari dengan membersihkan diri dari fakir dunia. meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah. beribadah. belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didalam hati sanubari seseorang itu. Cinta pada agama akan datang. manusia akan membersihkan diri daripada dosa. bertaubat dan lebih hampir kepada Allah s.w.t.
Demikianlah hikmah yang terdapat didalam masa tiga hari. Isyarat dari Al-Qur’an dan athar As-Sahabah inilah yang menjadi saranan oleh ahli jemaah Tabligh supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama tiga hari. Disamping itu ia juga akan menimbulkan keghairahan untuk belajar agama dan mengislahkan diri sendiri.
(Abu Abil Hasan Abn Musa – Soal Jawab Agama: Membahaskan Masalah Terkini Dalam Fekah: Bahagian Pertama – Klang Book Centre - Cetakan Pertama 2004 – m/s 260 – 266)
Dalil dan hikmahnya keluar 40 hari
Ramai orang mempersoalkan masalah ini. Dari manakah orang-orang tabligh ini mengambil dalil supaya keluar 40 hari. Sebenarnya bilangan 40 hari ini telah banyak disebut didalam al-Qur’an dan Hadith. Keberkatan yang ada padanya telah jelas apabila Allah s.w.t sendiri telah memerintahkan Musa a.s supaya menambah bilangan hari untuk bermunajat kepada Allah sebagaimana didalam al-Qur’an.
Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberi Taurat) sesudah berlaku 30 malam dan Kami telah sempurnakan waktu yang telah ditetapkan oleh Tuhannya dengan sepuluh malam. Maka genaplah dari Tuhannya selama empat puluh malam (Al A’raf 142)
Begitulah juga didalam Surah al Baqarah ayat 51. Allah s.w.t menyebut dengan janji-Nya kepada Nabi Musa a.s untuk mengurniakan Taurat setelah bermunajat selama empat puluh malam.
Didalam hadith baginda s.a.w banyak sekali menyebut tentang bilangan 40 ini. Diantaranya ialah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a beliau berkata daku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:
Sesungguhnya salah seorang daripada kamu dicipta didalam perut ibu selama 40 hari sebagai nutfah kemudian 40 hari menjadi seketul darah kemudian menjadi segumpal daging kemudian dihantar kepadanya seorang malaikat untuk meniupkan roh dan menulis kepadanya empat kalimat… (HR Muslim)
Dalam hadith yang lain ada dinukilkan bahawa barangsiapa bersembahyang selama 40 hari berjemaah tanpa ketinggalan takbiratul u-la akan mendapat dua jaminan. Satu keselamatan daripada neraka dan kedua bebas dari nifaq.
Hazdrat Abdullah bin Abbas r.a berkata dihari kematian anak lelakinya, “lihatlah berapa ramai orang yang berada diluar”. Hambanya berkata orang ramai telah berkumpul. “Adakah telah cukup empat puluh orang?” Mereka menjawab “Ya, telah cukup”. Abdullah bin Abbas r.a berkata “hadirilah sembahyang jenazah kamu aku mendengar baginda s.a.w bersabda mana-mana orang Islam yang meninggal dunia dan disembahyangi oleh 40 orang yang tidak melakukan syirik melainkan telah menjadi hak kepada si mayat bahawa jaminannya pasti diterima”.
Dalam hadith yang lain baginda s.a.w bersabda:
“Barangsiapa mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama 40 hari akan zahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”.
Banyak lagi hadith yang seumpama dengan ini yang menunjukkan keberkatan dan keutamaan pada tempoh atau bilangan 40 hari ini. Kita dapat melihat seorang yang keluar dijalan Allah melatihkan dirinya dalam menjalani ketaatan selama 40 hari sudah pasti amalan ini akan terus dilakukan ketika berada di rumah atau dikampungnya.
Daripada hadith-hadith dan pandangan nuraniah inilah maka masyaikh dan ulama’ di dalam usaha ini menyarankan supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama 40 hari mempelajari usaha dakwah dan mengislahkan diri masing-masing.
Sumber:
(Abu Abil Hasan Abn Musa – Soal Jawab Agama: Membahaskan Masalah Terkini Dalam Fekah: Bahagian Pertama – Klang Book Centre - Cetakan Pertama 2004 – m/s 266 –)
 
;