Kamis, 02 Juli 2009

Khargozari Eropa

Hidayatullah.com—Suhu politik Inggris tiba-tiba memanas ketika Jamaah Tabligh (JT), organisasi Muslim terbesar di Inggris, melontarkan rencana akan membangun sebuah masjid terbesar di Eropa, tepatnya di London.
Beberapa kalangan, termasuk anggota parlemen Inggris, menentang rencana tersebut. Alasannya, JT memiliki kaitan dengan dua pelaku bom London 2005 silam.
Menurut rencana, masjid tersebut akan dibangun di sebuah lahan bekas pabrik kimia seluas 18 acre (72.83 meter persegi) di kawasan Abbeymills, London Timur. Warga setempat, didukung beberapa anggota parlemen Inggris, menentang rencana tersebut. Untuk menunjukkan aspirasinya, awal tahun ini, sekitar 280 orang menandatangani petisi online di situs yang dikelola kantor PM Inggris Gordon Brown.
"Saya tidak antiMuslim. Bahkan, saya ingin membicarakan masalah ini ketimbang saling teriak menyalahkan," kata Alan Craig, politikus yang menentang rencana tersebut. Craig, yang juga anggota Christian People’s Alliance Party (Partai Aliansi Rakyat Kristen), menekankan bahwa objek keberatannya bukanlah Islam, melainkan JT.
"Warga Muslim berhak punya masjid seperti Kristen berhak punya gereja," katanya. Namun, dia keberatan dengan JT yang berada di balik pembangunan masjid tersebut karena dianggap sebagai salah satu kelompok fundamentalis.
Tahun lalu, Michael Gove, anggota parlemen Inggris, menyebut dua pelaku bom London Juli 2005 memiliki kaitan langsung dengan salah satu masjid yang dikelola JT di Dewsbury, Inggris Utara. Sejak aksi bom bunuh diri di stasiun kereta bawah tanah yang menewaskan 52 orang itu, warga Muslim Inggris sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
Tudingan itu langsung dibantah JT. Dalam situsnya, JT mengklaim bahwa mereka tidak terkait dengan aksi terorisme atau teroris itu sendiri. Mereka mendeskripsikan dirinya sebagai penyebar Islam dan gerakan pembaruan. "Kami tidak mengajarkan gerakan ekstremis. Tapi, kami juga tidak bisa menjelaskan dengan detail siapa saja yang datang ke masjid kami," katanya.
Lika-Liku
Perjuangan aktivis JT untuk bisa membangun masjid ini bukan perkara mudah. Selain dituduh terlibat tindakan terror, beberapa media massa yang seharusnya bersikap netral juga ikut memperkeruh suasana.
Salah satu media massa yang melakukan kampanye anti pembangunan masjid itu adalah tabloid Evening Standard. Sementara itu kelompok kiri British National Party dalam menggelar polling lewat internet dan mengatakan bahwa rencana pembangunan masjid itu, sejauh ini merupakan “simbol terbesar kolonisasi Islam di Inggris. “
Penasehat Dewan Kota Newham Allain Craig yang juga anggota parlemen dari Aliansi Masyarakat Kristen, juga menjadi salah seorang politisi di Inggris yang menentang pembangunan masjid agung di Newham.
Warga Muslim mengecam sikap Craig. “Craig adalah seorang pengecut dan rasis, ” kata Faisal Hammad.
Warga Newham lainnya, Graham Hyde, melontarkan kecaman yang sama. “Para politisi seperti Craig bisa tega menjual ibu-ibu mereka demi beberapa baris berita di media massa, ” tukas Hyde.
“Saya malu dengan cara orang ini menimbulkan perpecahan. Dia harus di pecat dari kantornya, ” sambungnya, seraya menyatakan bahwa keluarganya yang non-Muslim tidak keberatan dengan rencana pembangunan masjid tersebut.
Namun Walikota Inggris, Ken Livingstone mengecam kampanye yang menentang pembangunan masjid itu. Ia menyatakan, kampanye itu adalah upaya untuk menimbulkan kebencian antara warga Muslim dan Non Muslim. Menurutnya, rencana pembangunan masjid di Newham merupakan tanda harmonisnya hubungan antara masyarakat beragama di Inggris.
Dalam cetak biru rencana pembangunan, masjid yang akan dibangun di atas tanah seluas 18 hektar ini, akan dilengkapi dengan fasilitas sekolah, arena bermain dan taman. Masjid agung ini diperkirakan mampu menampung 12 ribu jamaah.
Sebagaimana diketahui, Jamaah Tabligh lahir sekitar tahun 1920-an di India dan kemudian berkembang ke berbagai penjuru dunia.
Profesor Yoginder Sikand, mengaku tahu seluk-beluk JT. Dosen Jamia Millia Islamia, sebuah universitas di New Delhi, itu menegaskan, struktur organisasi tersebut jauh dari gambaran sebuah kelompok teroris. Selama ini JT dikenal berdakwah dengan cara memakmurkan masjid-masjid .
Menurut Sikand, pembangunan masjid itu memiliki arti lain. "Selain tempat ibadah, masjid tersebut menjadi simbol identitas warga Muslim yang merasa terancam," katanya. Ketakukan pemerintahan Inggris menunjukkan ketidaksiapan mereka menerima perbedan, khususnya terhadap Islam. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

0 komentar:

Posting Komentar

 
;