Rabu, 09 September 2009 7 komentar

Kegiatan Besar yang Menghindari Ekspose Media


Sebuah perhelatan besar digelar 17-20 Juli di kawasan Serpong, Banten. Di situ berkumpul ratusan ribu orang yang menamakan dirinya anggota Jamaah Tabligh. Siapa sebenarnya mereka dan apa yang dilakukan selama digelarnya acara itu?
MAAF. Itulah kata yang sering muncul dari mulut petugas yang berada di Posko Khirosah di tempat perhelatan akbar Jamaah Tabligh di sebuah tanah lapang seluas 200 ha di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Minggu (19/7) lalu. Perkataan dengan nada santun tersebut mereka katakan ketika Suara Merdeka mencoba memperoleh informasi lebih jauh tentang kegiatan akbar tersebut dan hal-hal yang terkait teknis seperti jumlah anggota Jamaah Tabligh yang hadir, siapa tokoh nasional yang diundang, hasil-hasil pertemuan akbar, dan sebagainya.
”Maaf pak, kami memang tidak ingin riya’. Jadi kami tidak ingin mempublikasikan kegiatan kami di koran dan televisi. Biarlah nanti masyarakat mengetahui sendiri kegiatan silaturahmi pengikut ‘usaha dakwah’ ini, karena kami insya Allah akan bersilaturahmi ke masjid-masjid yang ada di tengah masyarakat,” kata petugas yang mengaku bernama Abu Jihad itu.
Jika melihat begitu banyaknya jumlah bus, metromini, minibus, sedan biasa sampai sedan mewah, sepeda motor sampai sepeda onthel yang terparkir rapi di lokasi tersebut, belum lagi mereka yang datang berjalan kaki atau naik ojek, maka bisa diperkirakan jumlah yang hadir mencapai ratusan ribu orang atau jauh lebih banyak daripada yang hadir pada saat kampanye akbar pasangan SBY-Boediono di Stadion Utama Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu.
”Mungkin hampir sejuta orang mas, tapi saya nggak tahu persisnya, karena kita datang kesini cuma mikir, cuma usahakan, iman kokoh di hati kita,” kata Anwar, anggota Jamaah Tabligh asal Malang, Jawa Timur.
Dia yang ”keceplosan bicara” merupakan staf pengajar di PTN favorit di Malang. Anwar mengaku, walaupun dihadiri anggota yang sangat besar jumlahnya serta dihadiri tokoh-tokoh nasional seperti Jusuf Kalla, bukan itu yang membesarkan pertemuan ini. ”Kita semua meyakini kebesaran sebuah pertemuan adalah bila di dalamnya membesarkan kebesaran Allah dan pentingnya dakwah untuk iman umat manusia. Kami ingin besar di mata Allah, bukan dinilai besar oleh mahluk-mahluknya. Kami juga tidak ingin membuat kami besar, kami istiqomah dakwah saja, biar Allah yang membesarkan kami,” paparnya.
Dalam setiap perhelatan akbar yang disebut ijtima’ tersebut, menurutnya, tidak ada perbedaan status sosial siapa yang datang. Bila presiden sekalipun, maka dia tidak akan diberi tempat duduk di VVIP dan harus duduk berbaur dengan jamaah, karena menjunjung tinggi prinsip semua sama di mata Allah, kecuali mereka yang bertakwa.
Ciri khas
Dari pengamatan Suara Merdeka, anggota Jamaah Tabligh mengenakan pakaian yang hampir seragam, seperti baju koko sampai dengan gamis yang panjang, celana panjang di atas mata kaki, kopiah putih, ada yang dilengkapi dengan sorban, dan sebagian besar memelihara jenggot.
Dari tampilan yang seragam ini, ternyata mereka datang dari status sosial berbeda. Hal ini terlihat dari beraneka kendaraan yang membawa mereka untuk hadir di acara tersebut. Deretan sedan dari BMW, Mercedes sampai Toyota Vios, juga SUV seperti Range Rover, Ford Escape, Toyota Fortuner sampai Daihatsu Terios berbaur dengan dengan Hijet dan bus butut, bahkan sampai sepeda onthel. ”Jangan difoto Pak, ini kebesaran dunia,” pinta sorang petugas di Khirosah saat Suara Merdeka akan memfoto hal yang menarik ini.
Kesan pertama masyarakat awam tentunya merasa asing bahkan ”seram” dengan kehadiran mereka. Namun demikian mereka tidak ekslusif dan berusaha untuk membaur dengan menyebarkan dakwah. Hal ini terlihat saat di warung kopi yang terletak dekat lokasi pertemuan akbar mereka. ”Assalamu’alaikum, Mas. Saya Junaidi asal Natuna, Riau, saya masih lemah iman, ikut ‘usaha dakwah’ ini untuk memperbaiki diri dan iman. Kita ikut saja biar Allah yang memberi kepahaman,” katanya kepada Suara Merdeka.
”Agar paham usaha ini, Mas bisa ikut ’usaha dakwah’ ini, kita khuruj, keluar di jalan Allah 3 hari saja. Semoga nanti dipahamkan Allah,” tambahnya.
Mendengar kata ‘keluar di jalan Allah’, teringatlah dengan kata-kata yang sering dikatakan almarhum Bangun Sugito atau dikenal dengan Gito Rollies. Ditanya apakah Gito ikut usaha dakwah ini, Junaidi hanya berkata ”Mas lebih tahulah daripada kami.”
Ditanya soal teknis terkait keluar di jalan Allah, dia menyatakan, ”Kalau Mas tinggal di Jakarta datang ke Masjid Jami’ Kebon Jeruk di ‘daerah kota’, daftar saja untuk keluar 3 hari. Kita dakwah membawa uang kita sendiri, dengan jiwa dan harta kita. Kita isi dengan baca kitab tentang keutamaan amal dan ibadah,” katanya.
Ijtima’ yang dimulai sejak tanggal 17 hingga 20 Juli pun berakhir, maka pulanglah mereka dengan tertib dalam rombongan-rombongan dengan seorang penanggung jawab. (Hartono Harimurti-62)
0 komentar

Indahnya Masturoh Di Bulan Ramadhan

Alhamdulillah,syukur ke hadrat Illahi kerana masih diberi kesempatan untuk aku khuruj 3 hari masturat di bulan Ramadhan ini. Walaupun ada sedikit ujian dalam pembentukan jemaah,tapi ianya dapat diselesaikan dengan izin Allah. Sebenarnya ada 2 jemaah masturat yang akan keluar masturat ni, masing2 6 pasang untuk 2 jemaah ni. Tapi pilihan Allah, ketika bayan hidayah, hanya 3 pasang aja yg dpt keluar dari jemaahku dan 5 pasang bagi satu jemaah lagi. Setelah dimesyuaratkan untuk dapat bentuk 2 jemaah maka jemaah kami telah import satu pasang masturat dari jemaah lagi satu untuk mencukupkan 4 pasang bagi syarat khuruj masturat ni..alhamdulillah, jemaah kami telah keluar di kawasan Penanti dan lagi satu jemaah ke Perlis.

Rumah yang kami pergi ini merupakan rumah taklim mingguan masturat dan merupakan seorang yang kaya. Bukan kaya harta tapi kaya anak. Bukan 5 orang anaknya, bukan 10 orang tetapi 14 orang anaknya dan yang kecil baru 1 tahun 2 bulan..subhanallah…sampai di rumah tersebut kami di sambut baik oleh tuan rumah dan anak2 perempuannya. Masa kami di sana ada 3 orang anaknya yang sudah besar,ke tiga2nya merupakan alimah. okey, hari jumaat merupakan hari terakhir sebelum kita menyambut ramadhan esoknya..dan peluang dapat menyambut puasa ketika keluar ke jalan Allah merupakan pengalaman indah dan menyeronokkan yang akan ku ingat sampai bila2.. apa yang seronoknya kami berpeluang solah terawih 20 rakaat berjemaah diimamkan seorang hafizah yang turut keluar masturat ni..ada 2 orang hafizah dalam jemaah masturatku ini..alhamdulillah, actually, aku x pernah lagi merasa solah terawih dengan bacaan satu juzuk ni, tapi kali ini Allah beri peluang ini ketika kami keluar ni, memang seronok sangat..dapatlah dua malam kami terawih dengan bacaan 2 juzuk al-quran ni..Alhamdulillah..

Apa yang menariknya khuruj di bulan ramadhan adalah peluang untuk amal ibadah lebih banyak berbanding hari2 biasa dan program pun tak padat sangat.. tak perlu nak sarapan, makan tengahari dan minum petang..so, masa terluang boleh isi dgn amal infradi..selepas asar baru kami buat persiapan untuk berbuka puasa. alhamdulillahla, anak tuan rumah yg besar2 pun ada seramai 3 orang, maka kerja untuk buat persiapan berbuka menjadi mudah..alhamdulillah, saat berbuka puasa adalah saat yang paling ditunggu2…teringat satu hadith yang menyatakan orang yang berbuka puasa mendapat dua kegembiraan, satu ketika berbuka puasa dan satu lagi ketika berjumpa Allah Taala..memang betul..hanya orang yang berpuasa sahaja merasai saat tersebut..kami di jamu dengan pelbagai kuih-muih..memang banyak coz anak tuan rumah ni pun ramai..menurut anak tuan rumah ni, memang setiap malam mereka tidak makan nasi, hanya makan kuih,biskut or buah2an sahaja…patutla…kuih muih pun banyak..bolehla belajar dari cara tuan rumah ni..coz biasanya org sibuk nak jamu juadah yang best2, dengan lauk pauk yang bermacam2..tapi tuan rumah ni, simple je..buka puasa pun x dela kalut cam sesetengah orangkan..alhamdulillah,berkat didikan mak ayah la tu..

Dan secara keseluruhannya, ramaila orang nusrah kat jemaah kami ni, iyala, kawasan ni memang kuatla usaha agama, rata2 anak2 mereka ni hafizah dan alimah..dan masa bayan tangguh hari ahad lepas asar,pembayan pun adalah terghib kami ni para masturat supaya lebih banyak bagi masa untuk kerja agama dan menjadi pendorong suami dalam usaha dakwah ini. pembayan juga menerangkan 5 sifat para wanita supaya dapat di amalkan dalam rumah tangga mereka iaitu
1-menjadi daeiyah~pendakwah
2- menjadi alimah ~berpengetahuan dalam agama
3- menjadi abidah~ kuat beribadah
4- menjadi murobbiyah~ orang yang mendekatkan diri pada Allah
5- menjadi khadimah~orang yang suka berkhidmat terutama untuk agama Allah

Alhamdulillah, mudah2an pada masa hadapan, Allah Taala memberi lagi peluang untuk aku khuruj di jalannya dan semoga asbab pengorbanan mereka yang keluar ke jalan Allah ini akan jadi asbab hidayah seluruh alam..ameen..

Sumber: http://karkunahmithali.blogspot.com/
0 komentar

Mantan Rabby Yahudi AS Aktif Dakwah di JT

Shalat Jumat di Masjid Al Rahma dekat dari kediaman akh Kun Marhadi, saya berkenalan dengan Syekh Syarif Battikhi, orang Suriyah yang bertugas sebagai Khatib di Masjid yang baru diresmikan sebulan lalu ini. Sehari sebelumnya, Rabu malam Kamis, selepas Maghrib, saya berceramah di Masjid ini tentang “kewajiban kita terhadap Rasulullah Saw”. Dari beliau saya mendengar banyak cerita menarik seputar perkembangan Dakwah di US, khususnya di wilayah San Diego, California. Pengalamannya, beliau pernah mengislamkan seorang Rabby Yahudi, yang menceritakan bahwa motif masuk islamnya adalah karena banyak menemukan ketidak benaran dalam ajaran agama yang dia anut sebelumnya, dan Islam adalah agama yang paling sesuai dengan Fitrah insany. Belakangan Muallaf yang satu ini mengikuti kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh yang berpindah dari satu Masjid ke Masjid lainnya untuk berdakwah.

Dalam penuturan Syekh Syarif, ada seorang wanita warga US datang menemani anaknya untuk masuk Islam ke Islamic Center Abu Bakar di San Diego. Menurut penuturan Syekh, anak yang masih berada di bawah umur 18 tahun, tidak dapat menentukan sikapnya sendiri menurut peraturan di US. Karenanya dia harus ditemani oleh ibunya. Syekh bertanya kepada sang ibu “kenapa anda mengantar anak anda masuk Islam sedang Anda sendiri tidak Islam”. JawaDari beliau saya mendengar banyak cerita menarik seputar perkembangan Dakwah di US, khususnya di wilayah San Diego, California. Pengalamannya, beliau pernah mengislamkan seorang Rabby Yahudi, yang menceritakan bahwa motif masuk islamnya adalah karena banyak menemukan ketidak benaran dalam ajaran agama yang dia anut sebelumnya, dan Islam adalah agama yang paling sesuai dengan Fitrah insany. Belakangan Muallaf yang satu ini mengikuti kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh yang berpindah dari satu Masjid ke Masjid lainnya untuk berdakwah.bnya, saya membesarkannya dengan baik, menjauhkanya dari drug dan prilaku yang buruk yang banyak menimpa anak muda di sini. Aku sendiripun menjauhi perbuatan-perbuatan itu, sekarang aku mau anakku ini tumbuh bersih dan jauh dari perbuatan-perbuatan menyimpang itu, dan aku melihat, cara satu-satunya adalah hidup dalam naungan Islam. Karenanya aku rela mengantar dia kemari untuk masuk Islam. Anak itupun bersyahadat. Masya Allah.

Syekh Syarif sekarang sedang menduduki posisi ketua Majelis Antar Agama untuk daerah San Diego. Majlis ini adalah forum komunikasi yang sangat berharga bagi ummat Islam untuk menjelaskan apa itu Islam kepada masyarakat Amerika. Dulu yang memegang peran ini untuk menjelaskan Islam kepada public adalah orang Yahudi dan Hindu. Tetapi setelah kita masuk ke dalam forum ini, kita lah yang menjelaskan Islam kepada public. Di majelis ini kita tidak merendahkan diri atau menjual agama kita kepada non Muslim untuk menyenangkan mereka, akan tetapi kita mengajarkan Islam kepada mereka dengan benar.

Kejadian menarik saya alami hari Kamis 23 Juli, ada seorang pemuda berkulit hitam, ketika selesai shalat zuhur, saya dipangil oleh pengurus Masjid al-Ribath di La Mesa, untuk mendengarkan ungkapan anak muda itu. Performen anak muda ini aeperti anak muda gaul lainnya, di telinganya masih ada anting di kiri kanan, tetapi di tangan kanannya, ada terjemahan alqur’an yang agak tua. Nampaknya ia sudah lama membaca kitab itu. Kami kira dia sudah siap bersyahadat, rupanya dia masih mengkaji Islam. Ketua Masjid, Brother Munir, asal Mesir, mengatakan bahwa masjid kita memiliki program setiap ahad (Sunday Class) untuk Muslim baru. Silakan anda datang dan menanyakan apa saja yang mengganjal dalam pikiran anda tentang Islam. Lalu saya usulkan kepada beberapa jama’ah yang berkerumun di depan lelaki itu, mari kita jelaskan secara singkat tentang Islam kepada beliau, beberapa menit saja, tanpa menunggu datangnya hari Ahad, lalu setelah itu, jika ada pertanyaan lanjutan, ia bisa datang pada hari Ahad. Sang Ketua menyambut saran saya, beliau pun mulai menjelaskan singkat tentang wahyu yang diturunkan kepada Nabi-nabi sebelum Muhammad Saw. Sejarah singkat risalah Musa, Isa alaihimussalam dalam beberapa menit. Namun karena saya harus meninggalkan tempat itu, sayapun permisi. Pada waktu Maghrib, saya datang kembali ke Masjid itu, saya terkejut ketika melihat anak muda tadi masih ada di Masjid. Saya bertanya kepada Sdr Munir, bagaimana kisah anak muda tadi? Kata Munir, anak muda itu sudah masuk Islam tadi setelah anda berangkat beberapa menit. Sungguh menggetarkan jantung saya. Karena ketika saya masih di situ, Munir bertanya, bagaimana kalau anda sekarang bersyahadat? Dia menjawab belum siap. Masih mau belajar. Tetapi beberapa menit setelah itu, Munir menerangkan kepada beliau dengan bertanya, Apakah Anda percaya (Iman) kepada Allah Swt? Ia menjawab “ya”. Munir bertanya lagi, apakah Anda percaya kepada Nabi-nabi seperti Ibrahim, Nuh, Dawud, Musa dan Isa? Ia menjawab “ya”. Lalu kata Munir melanjutkan, Nabi Muhammad hanya meneruskan garis para Nabi-nabi sebelumnya menyuruh manusia menyembah Dia dan tidak mensekutukanNya dengan yang lain. Apakah Anda percaya kepada Muhammad? Lelaki itupun menjawab : “kalau begitu ya”. Munir langsung mengatakan berarti Anda sudah siap bersyahadat, Lelaki itupun mengucapkan Syahadatnya, Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasulullah. Maghrib dan Isya, ia sudah melaksanakan Shalat berjamaah bersama jama’ah Masjid al-Ribath di La Mesa, California. Subhanallah. Tak usah kaget, hal seperti ini sudah biasa terjadi dimana-mana di Amerika. Dengan penjelasan simpel dan tak berbelit-belit, seseorang merasa percaya kepada Islam, merekapun bersyahadat. Mirip seperti kisah-kisah di zaman Rasul dan Shahabat Nabi dahulu kala. Sementara non Muslim di negeri kita, sudah dijelaskanpun tentang Islam dan mereka juga sudah banyak mendengar tentang Islam, namun hati mereka keras tidak dapat menerima Hidayah Allah Swt.
0 komentar

Masa Depan Jamaah Tabligh di Indonesia

Di situs islamlib.com. KH Mukhlas Syarkun, MA (Wakil Ketua Lembaga Takmirul Masajid Indonesia atau LTMI-NU) dan Ahmad Baso (pengurus Lajnatut Ta’lif wan Nasyr atau LTN-NU) yang diwawancarai islamib.com mengatakan: Dulu, gejala yang meresahkan orang adalah munculnya kelompok Jamaah Tabligh yang terkadang datang merebut masjid dan tinggal di situ.( http://islamlib.com/id/index….)

Dari tulisan tersebut terlihat mereka sangat ketakutan dengan gerakan jamaah tabligh sehingga mereka perlu membendung gerakan jamaah tabligh dengan tuduhan merebut masjid, menjadikan masjid sebagai basis politik bukan dakwah. Akankah jamaah tabligh akan suram masa depannya dengan tuduhan yang dilakukan oleh 2 orang tersebut? Tentu saja ucapan Mukhlas Syarkun dan Ahmad Baso ada yang mempercayai walaupun tidak banyak. Sebab gerakan jamaah tabligh adalah bukan organisasi masyarakat tetapi sebuah gerakan amalan yang menghidupkan/memakmurkan masjid dan silahturahmi. Gerakan jamaah tabligh tidak bersifat lokal tetapi untuk seluruh umat manusia . Yang kita pertanyakan adalah mengapa gerakan jamaah tabligh yang masuk ke indonesia baru beberapa tahun langsung bisa begitu besar di indonesia bahkan hampir diseluruh pelosok indonesia pasti kita temui aktivis jamaah tabligh/karkun bahkan di irian jaya dan timor timur ada. Kita perlu tahu mengapa dakwah jamaah tabligh banyak disambut oleh warga NU tradisional di indonesia. Hal yang paling mendasar dari gerakan jamaah tabligh adalah mereka selalu mengajak.

1. Memakmurkan masjid.

Gerakan ini tidak berambisi dalam masalah politik tetapi mengajak manusia untuk taat pada Alloh SWT dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dengan menjadikan masjid sebagai basis dakwah. Tak heran di Indonesia yang banyak masjid tetapi sepi dari umat dengan kedatangan jamaah ini menjadi makmur dan banyak amalan sunnah yang hidup.

2. Menghidupkan amalan silahturahmi

Bukan hanya orang indonesia yang berdakwah melalui gerakan jamaah tabligh tetapi orang luarpun juga masuk ke indonesia karena persaudaraan islam tidak dibatasi kedaerahan. Jamaah tabligh selalu mengajak untuk membangun persaudaraan dan silahturahmi tanpa memandang ras dan kedaerahan/negara. Disaat ini orang bersilaturahmi didasarkan kepentingan tertentu saja. Dengan adanya gerakan jamaah tabligh yang mengajak untuk silaturahmi antar sesama muslim seluruh dunia. Gerakan ini disambut baik oleh masyarakat indonesia. Bahkan banyak kalangan tradisional yang ikut dalam gerakan jamaah tabligh. Dua hal diatas adalah landasan pokok gerakan jamaah tabligh. Dan di dalam mereka mengajak umat untuk taat pada Alloh dan Rasul Nya mereka lakukan dengan akhlak mulia dan santun. Mereka berdakwah tidak meminta bayaran tetapi malah berkorban sehingga punya militansi yang tinggi Sehingga Mukhlas Syarkun dan Ahmad Baso tidak akan mungkin menghentikan gerakan jamaah tabligh bahkan suatu saat kebencian dua orang ini terkuat sendiri. Ucapan2 mereka akan menjadi senjata makan tuan. Karena masyarakat lebih tahu realitas tentang gerakan jamaah tabligh. Kita bisa memprediksikan dengan dakwah silahturahmi yang santun ini gerakan jamaah tabligh akan cepat berkembang di indonesia terutama dikalangan NU tradisional. Gerakan jamaah tabligh ibaratnya sebuah aliran air yang tenang yang terus mengalir mengirimkan rombongan-rombongan dakwah ke seluruh pelosok nusantara sehigga gerakan ini semakin diterima oleh masyarakat.
2 komentar

Prihatin Atas Penahanan Jamaah Tabligh

Kelompok Jamaah Tabligh adalah kelompok yang sangat moderat. Kegiatan dakwahnya tidak menimbulkan ancaman apapun. Mereka hanyalah menyampaikan ajaran Islam, dan membacakan hadist-hadist shohih dan mutawatir. Di manapun mereka berada. Mereka mengajak masyarakat yang berada di sekeliling masjid untuk sholat berjamaah di masjid.

Mereka melakukan ‘khuruj’ (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid), adalah bagian dari ‘methode’ dakwah mereka, dan tujuan berdakwahnya, mengajarkan Islam, selain mendidik diri mereka sendiri agar menjadi orang-orang yang ikhlas (mukhlisin), dan bersedia berkorban untuk agama. Kegiatan-kegiatan mereka tak ada yang aneh-aneh, hanya mengajak masyarakat muslim, mengamalkan ajaran Islam.

Sungguh, tak dapat dimengerti mengapa, Kepolisian Jawa Tengah, harus menahan 17 orang anggota Jamaah Tabligh, yang sedang mengadakan ‘khuruj’ di Purbalingga dan Solo. “Sembilan orang ditangkap di Purbalingga, dan delapan orang di Solo”, ujar Kepala Polda Jawa Tengah, Irjen Alex Bambang Riatmojo, di Purwokerto, Jawa Tengah. Diantara 17 orang itu yang ditahan itu, tak lain anggota Jamaah Tabligh yang berasal dari Philipine.

Menurut Alex, mereka ditangkap karena dianggap menyalahi izin visa yang semestinya. Sesuai visa, mereka di Indonesia untuk kunjungan wisata. Tapi, selama berada di tanah air, mereka melakukan kegiatan keagamaan. “Mereka kami tahan untuk kami mintai keterangan”, tegas Alex.

Tapi, sebenarnya, banyak kelompok agama-agama yang lain, dari luar yang mereka menggunakan visa turis, juga untuk menyebarkan agama, jika itu yang menjadi alasannya.

Kelompok Jamaah Tabligh yang berpusat di Lahore Pakistan itu, setiap tahunnya mengadakan ‘ijtima’ (pertemuan), yang diikuti oleh puluhan juta orang dari seluruh dunia. Dan, usai melakukan ‘ijtima’, lalu mereka melakukan ‘khuruj’ ke berbagai negara di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia.

Mereka melakukan ‘khuruj’ termasuk ke negara-negara Barat, yang sangat sekuler. Mereka melakukan kegiatannya itu, mereka biayai sendiri. Bahkan, di negeri “jiran’ Malaysia, banyak para pejabat kerajaan yang menjadi anggota Jamaah Tabligh. Karena, mereka mereka mengajarkan sifat-sifat yang mulia, termasuk mengajarkan hadist, dan mengajak masyarkat sholat berjamaah di masjid-masjid.

Mereka dari masjid ke masjid. Mereka tinggal di masjid-masjid selama ‘khuruj’, dan hidup bersama masyarakat. Bahkan, mereka menanak nasi, dan membawa perbekalan sendiri selama ‘khuruj’. Mereka jauh dari kemewahan, saat menjalankan da’wah mereka. Mestinya, para aparat keamanan melindungi dan menjaga mereka, dan tidak menahan mereka, karena mereka itu, orang yang ikhlas, dan berhati lembut.

Semestinya, kepolisian Jawa Tengah melepaskan mereka, dan membiarkan mereka untuk melaksanakan ‘khuruj’ yang mereka amalkan. Apalagi, menjelang Ramadhan, di bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan ini, umat berlomba-lomba melakukan kebaikan. Jangan sampai polisi yang memburu ‘teroris’, lalu setiap kelompok dicurigai.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH.Ma’ruf Amin, yang juga menjadi Watimpres (Dewan Pertimangan Presiden) itu, menyesalkan kecenderungan polisi menangkap tersangka teroris atas dasar kecurigaan semata.

Apalagi, kecurigaan itu tidak didasari bukti kuat, tapi h anya tampilan pisik luar, seperti berjenggot, bersorban, dan berperilaku rajin ibadah. “Aparat harusnya rasional, jangan ngawur”, ujar Kiai Ma’ruf. Kita mengharapkan polisi menjadi pelindung dan pengayom masyarakat. Meskipun, polisi harus bertindak tegas, bagi siapa saja yang membahayakan keamanan negara. Wallahu’alam.(eramuslim; Kamis, 20/08/2009 17:41 WIB)
0 komentar

Pemeriksaan Jamaah Tabligh di Jateng hal Biasa

JAKARTA--Pemeriksaan terhadap 17 anggota Jamaah Tabligh asal Filipina di Markas Polda Jawa Tengah merupakan sesuatu hal yang biasa menurut Majelis Syuro Jamaah Tabligh Indonesia.

"Itu biasa saja, karena masalah keimigrasian," kata Ustad Abdurrahman Lubis dari Majelis Syuro Jamaah Tabligh Indonesia, dalam diskusi bertema "Waspadai Orang Berjubah dan Berjenggot, Maksud Lo?" di Jakarta, Rabu.

Abdurrahman mengakui, dirinya mengetahui peristiwa itu awalnya dari pemberitaan di sejumlah media massa. Para anggota dari Jamaah Tabligh, menurut dia, memang telah biasa mendapat laporan-laporan "kecurigaan" seperti itu.

Abdurrahman yang telah singgah di banyak masjid di sekitar lima belas negara itu mengakui, bahwa di Jepang dirinya pernah terus menerus diikuti oleh intel dari negara tersebut.

Sedangkan di Yaman, ujar dia, anggota jamaah tabligh hanya mengatakan bahwa kedatangannya hanya untuk berdakwah maka akan terus diperbolehkan oleh petugas keamanan.

Ia juga menuturkan, dirinya pernah diperiksa secara seksama di bandara Singapura setelah tiba dari Madagaskar pascaperistiwa di WTC (World Trade Center) New York, Amerika Serikat. Abdurrahman sama sekali tidak percaya bila terdapat anggota Jamaah Tabligh yang dikait-kaitkan dengan aktivitas terorisme.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Jakarta, Jumat (20/8), mengatakan, sebanyak 17 anggota Jamaah Tablig asal Filipina yang sempat diperiksa di Mapolda Jawa Tengah kini diserahkan ke Kantor Imigrasi setempat karena diduga telah melanggar keimigrasian.

"Mereka tidak terbukti terlibat tindak pidana termasuk terorisme namun diduga ada pelanggaran imigrasi. Biar petugas Imigrasi yang akan menangani selanjutnya," katanya di Jakarta, Jumat.

Polisi meminta keterangan pada sembilan Jamaah Tablig saat sedang menginap di salah satu masjid di Banyumas dan delapan orang di Surakarta. Petugas melakukan hal tersebut karena ada laporan dari warga yang merasa curiga dengan kedatangan warga negara asing itu.

Jamaah Tabligh biasanya datang dari satu masjid ke masjid lain untuk berdakwah dan berceramah. Kegiatan mereka bahkan hingga ke luar negeri sehingga banyak terjadi Jamaah Tabligh Indonesia ke luar negeri dan Jamaah Tabligh dari luar negeri pergi ke Indonesia. ant/pur
8 komentar

Pertemuan Jamaah Tabligh Tak Tersentuh Media

Ketika dua buah bom meledak dan mengguncang jantung kawasan Mega Kuningan, Jumat pagi 17 Juli lalu, semua media mengangkatnya sebagai headline atau breaking news. Itu normal. Namun, ketika pada waktu yang nyaris sama, sekitar lima ratus ribu orang yang datang dari berbagai pelosok negeri dan mancanegara melangkahkan kakinya dan berkumpul serta menggelar acara “Ijtima Tahunan Umat Islam” selama tiga hari berturut-turut di sebuah perkebunan kelapa seluas 50 hektar di kawasan BSD City, tak satupun media memberitakannya. Apakah itu sesuatu yang normal?

Bagi teman-teman Gerakan Jamaah Tabligh, yang punya hajatan raksasa itu, sepinya acara yang digelar 17,18,19 Juli 2009 itu dari sorotan media justru dianggapnya sebagai sesuatu yang menguntungkan. “Kami ini orang-orang lemah yang mudah terganggu keikhlasan hati kami manakala bersentuhkan dengan publikasi. Kami sedang belajar mengorbankan harta dan diri kami untuk perbaikan iman dan amal kami. Kami sedang mematut-matut diri agar Allah swt menolong dan menyelesaikan masalah-masalah kami, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi bukannya tak butuh publikasi media, apalagi memusuhinya…tidak sama sekali,” tutur Maulana Baban, seorang aktivis Jamaah Tabligh dari Bandung yang suntuk dan berkeringat merancang acara pertemuan tahunan di BSD City itu. Menurutnya, jangankan membuat press-release, yang namanya proposal, kop surat, stempel, dan perangkat-perangkat administrasi dan publikasinya lainnya tak dikenal sama sekali di lingkungan Jamaah Tabligh. “Bahkan, nama Jamaah Tabligh pun itu bukan kami yang bikin. Itu sebutan yang dibuat masyarakat terhadap aktivitas kami. Kami ini lebih senang disebut umat Islam saja, atau hamba Allah, atau Umat Rasulullah…” tuturnya, lebih lanjut.

Sebagai gerakan dakwah yang dikenal santun, nonpolitis, nonmazhab, egaliter, dan mendunia, perkembangan Jamaah Tabligh tampak sangat fenomenal. Sepuluh tahun yang lalu, ketika pertemuan serupa diselenggarakan di Kawasan Ancol, hanya dihadiri sekitar 50 ribu orang dari dalam negeri dan sekitar 1000 orang dari 32 negara. Pertemuan pekan lalu di BSD City dihadiri oleh sekitar 500 ribu orang jamaah dalam negeri dan 10000 orang tamu dari 231 negara.

Di tingkat dunia, gerakan dakwah yang dibidani oleh Maulana Ilyas, seorang alim yang juga konglomerat India, sekitar tahun 1920, perkembangannya banyak menyentak berbagai kalangan. Dengan “jurus” yang relatif sederhana, yakni dengan mengembangkan metode “khuruj fisabilillah” selama 3 hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun, dan 4 bulan seumur hidup, berbagai “lahan tandus yang gersang dari iman dan amal Agama” secara bertahap dan meyakinkan menjadi “lahan subur yang makmur dengan iman dan amal Agama”. Di Benua Australia kini tercatat 500 masjid sudah berdiri dan hidup amalan agama dengan pola sunnah. Di Eropa, terutama di Inggris, Prancis, dan Jerman, jejak-jejak kerja dakwah Jamaah Tabligh sangat meluas dan membekas, antara lain berupa banyaknya gereja yang berubah fungsi menjadi masjid. Di Amerika Serikat bahkan rombongan Jamaah Tabligh sudah berhasil menembus Gedung Putih dan mendirikan mushola kecil di sana. Yang pasti, aktivitas Jamaah tabligh, berdasarkan laporan terakhir dalam Ijtima Tahunan di BSD City pekan lalu, sudah meliput 321 negara. Sementara di Indonesia sendiri, semua kabupaten dan kecamatan sudah memiliki markas Jamaah Tabligh.
 
;